Categories: Blog

Tex Saverio, Desainer Lokal Bercita Rasa Internasional

Negara Indonesia memiliki aneka macam karya unik dan eksentrik dalam aneka hal. Termasuk salah satunya dalam bidang tata busana. Profesi yang terkenal dalam kancah internasional dengan nama Fashion Designer. Sudah menjadi suatu impian utama profesi apapun di seluruh dunia untuk bisa menjadi sosok yang sukses dan terkenal dalam bidangnya secara Internasional. Digambarkan seakan dunia seperti akan berakhir, banyak dari antara mereka yang tidak mau melepas profesi ini kepada orang lain. Reputasi yang sudah berhasil dibangun dengan kerja keras dan jerih payah seakan tidak boleh lenyap ditelan bumi, atau digantikan kepada pihak lain untuk melanjutkan gelar reputasinya. Pamor dunia fashion akan terlalu menyilaukan mata untuk dilepaskan.

Secercah Cahaya di Awal Mula Karir Tex Saverio

Rio, yang merupakan panggilan dari Tex Saverio telah berhasil membuktikan kemampuannya di dunia Internasional. Dengan berbagai karya yang telah diciptakan dan berhasil memukau mata penjuru dunia ditengah gemerlapnya aksen busana di ajang penghargaan besar yang spektakuler. Dengan merancang kreasi populerkan yang berhasil memenangkan hati berbagai tokoh terkenal seperti Lady Gaga yang dijuluki Mother Monster, hingga miliuner Kim Kardashian. Jutaan mata kini telah mengenal dan mengakui sosok seorang Tex Saverio sebagai pria muda yang berbakat. Namun apakah semua itu didapatkan begitu saja dengan mudah? Tentunya tidak. Rio telah melewati puluhan tahun masa kelamnya saat menginjak bangku sekolah. Pria yang lahir pada tanggal 24 Agustus 1984 di Jakarta ini harus melepaskan bangku SMA untuk memilih studi spesialis sebagai perancang busana di Sekolah Fashion Bunka. Dengan kriteria sekolah kejuruan fashion yang lebih spesialis menggunakan konsep merancang busana asal Jepang menjadikan sekolah ini berskala internasional. Pengorbanan biaya yang besar telah dikeluarkan Tex Saverio di sekolah kejuruan itu sebagai pengganti tingkat sekolah akhirnya. Belum lagi ditambah dengan fakta bahwa dirinya adalah seorang pria. Profesi yang berkaitan dengan busana akan dianggap lebih cocok dikerjakan oleh kaum wanita. Tentunya hal ini sering menjadi suatu momok celaan atau bentuk cibiran yang dilontarkan oleh aneka macam temannya dikala itu. Tidak seperti sekarang dimana banyak profesi Fashion Designer sudah diisi oleh kaum laki-laki, pada masa itu pastinya orang akan menganggap bahwa pekerjaan ini akan tidak lazim untuk dijalani kaum pria.

Perjalanan yang ditempuh Tex Saverio selama belajar dan mulai berkreasi pun tidak pernah disangka akan berhasil sampai ke titik seperti ini oleh pengakuan dari teman seperguruannya. Rio dikenal sebagai sosok yang standar dan sama sekali tidak mencolok saat mempelajari ilmu merancang busana pada waktu itu. Bahkan terkesan agak malas dan sering mengumpulkan tugas di detik-detik terakhir sebelum deadline. Setelah berhasil menyelesaikan studi dan memperoleh kemampuan seputar merancang busana di Bunka, Tex Saverio melanjutkan pendalaman studinya ke tingkat Fashion Design II. Langkah ini  ditempuhnya sebelum bersaing ke persaingan dunia lepas di sebuah tempat bernama Phalie Studio, di daerah Kelapa Gading Jakarta. Pada tahun 2003, setelah menuntaskan studinya di Phalie Studio School of Art & Design. Tex Saverio dianjurkan untuk menyertakan karya desain karyanya ke sebuah lomba Desain Busana & Aksesori Desainer Muda yang berlangsung tahun 2003, dimana acara ini diselenggarakan oleh salah satu majalah fashion di Indonesia. Tex Saverio dan tiga orang teman sekelasnya di Phalie Studio, Caryn Widjaja, Yully Kumala dan Jessica Darmawan mengirimkan karya sketsa rancangan mereka masing-masing untuk ikut serta dalam kejuaraan besar itu. Berhasil menunjukkan kemampuannya di perlombaan pada tahun 2003 itu, baik Tex Saverio maupun ketiga perancang wanita temannya sukses membawa pulang penghargaan sebagai finalis. Pada tahun 2005, Tex Saverio pun berhasil menampilkan kemilau karyanya saat memenangkan penghargaan Mercedes-Benz di ajang Asia Fashion Award. Pencapaian solo ini dicapainya saat usianya masih sangat belia, dimana Rio baru berumur 21 tahun.

Perubahan dan Keberhasilan Sosok Tex Saverio

Keberhasilan seorang Tex Saverio tidak akan terwujud tanpa dorongan dari teman yang mendukungnya untuk tampil ke publik. Berlandaskan dengan pengalaman yang belum seberapa, Tex Saverio memberanikan diri untuk mengajukan kreasi busana buatannya untuk ikut serta kepada agen dari Artis eksentrik yang terkenal dengan nama Lady Gaga. Seperti peribahasa gayung bersambut, karya Tex Saverio berhasil mendapat sambutan yang positif dari agensi yang menangani penyanyi sekaligus artis Lady Gaga. Terciptalah suatu karya fenomenal yang dinamai La Glacon untuk dikenakan artis kenamaan tersebut di ajang Bazaar terkenal Harper pada tahun 2011. Film terkenal The Hunger Games juga menggunakan kostum rancangan Tex Saverio untuk peran gaun pengantin yang dikenakan oleh Jennifer Lawrence selaku Katniss Everdeen dalam film tersebut.

Kostum Hunger Games dan Lady Gaga

Tex Saverio mengusung genre fashion dalam gaya seputar busana pengantin dengan beberapa sentuhan unsur Haute Couture. Aneka gaya busana yang diciptakan merupakan karya tuntas yang siap dipakai dalam memberi tampilan keseluruhan bagi modelnya, dengan kriteria pakaian yang dibuat dengan kualitas lebih mewah dan eksklusif sehingga tidak umumnya digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Jenis Haute Couture itu sendiri dikenal di Indonesia sebagai pakaian Adibusana. Aneka macam perancang busana juga banyak yang mengeluarkan jenis busana ini saat sudah mencapai tingkat kemampuan yang lebih dalam, atau jika memiliki ketertarikan untuk terjun ke jenis busana itu. Jenis busana seperti ini akan sangat terlihat di mata orang-orang yang mengerti akan kualitas bahan pakaian dan disertai aksesoris yang juga memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam merancang pola pakaian tersebut. Jenis usaha apapun di masa kini tidak terbatas bagi kaum tertentu saja. Peluang di dunia sudah terbuka dengan begitu luasnya dari faktor perkembangan jaman dan teknologi. Sudah sangat terlihat bahwa siapapun bisa menjadi sosok apapun yang mereka inginkan jika disertai dengan upaya dalam meraihnya akibat sengitnya faktor persaingan.

Puncak Kemilau Sosok Tex Saverio

Siapa sangka pria berkulit putih dan wajah tampan seperti artis Asia ini berhasil mendapatkan bayaran yang cukup tinggi sebagai profesinya sebagai perancang desain busana di masa kini? Juga siapa yang pernah berpikir bahwa upaya melawan arus yang dikerjakan di masa lalu dapat memberi hasil yang demikian maksimal seperti saat ini? Dan ditambah lagi, penghargaan besar ini berhasil diperolehnya tanpa sempat menuntaskan masa SMAnya akibat lebih memilih untuk fokus ke bidang perancangan busana sekitar tahun 2000 lalu? Tentunya pencapaian ini tidak menunjukkan bahwa masa sekolah menjadi suatu hal yang tidak penting untuk dikerjakan. Jika masih memungkinkan, menjadi suatu hal yang penting bagi semua orang untuk dapat menuntaskan tingkat sekolahnya hingga ke perguruan tinggi, akademi, atau bahkan gelar yang lebih tinggi lagi. Namun usaha yang tekun dan pantang menyerah tentu manjadi faktor besar dalam memberi hasil ini. Tanpa  tekat, perjuangan, dan kerja keras, tentunya dunia tidak akan mengenal seorang sosok yang bernama Tex Saverio pada catatan sejarah dunia busana Internasional. Siapkah kamu untuk tekun bekerja dalam memperjuangkan impianmu hingga berhasil seperti Tex Saverio? Tetap semangat dan terus berikan yang terbaik!